Andai Semua Seperti Babi

Andai Semua Seperti Babi

Oleh: Mustafa Husen Woyla

 

Di negeri yang mayoritas muslim ini, babi mungkin adalah makhluk yang paling ditakuti. Tulisan “mengandung babi” bisa membuat orang spontan mundur beberapa langkah. Restoran diperiksa. Gelatin dicurigai. Minyak goreng dipastikan asal-usulnya. Bahkan kadang sendok, piring, dan alat masak pun ikut diinterogasi.

 

Kesadaran itu tentu baik. Itu tanda bahwa umat Islam masih memiliki rasa hormat kepada syariat. Masih ada rasa takut melanggar larangan Allah. Tidak semua orang punya sensitivitas seperti itu. Maka dalam konteks tertentu, sikap hati-hati terhadap makanan haram adalah cermin keimanan.

Tetapi di tengah semua ketelitian itu, ada ironi yang diam-diam sedang tumbuh besar dalam kehidupan umat.

Mengapa sebagian kita begitu takut kepada babi, tetapi tidak terlalu takut kepada korupsi?

Mengapa begitu jijik terhadap lemak haram, tetapi santai memakan uang rakyat?

Mengapa sangat sensitif soal makanan, tetapi longgar soal kebohongan?

 

Pertanyaan ini terasa mengganggu, tetapi penting diajukan sebagai otokritik bersama.

Sebab faktanya, di banyak tempat kita menemukan orang yang sangat ketat menjaga label halal, tetapi pada saat yang sama tidak terlalu gelisah ketika memotong hak orang lain. Ada yang rajin menghadiri pengajian, tetapi masih bermain proyek. Ada yang marah bila makanan diragukan kehalalannya, tetapi tidak malu menerima amplop sogokan.

 

Seolah-olah dosa hanya berkaitan dengan apa yang masuk ke mulut, bukan dengan apa yang dilakukan oleh tangan, lidah, dan jabatan.

Bayangkan sejenak jika korupsi ditakuti seperti umat Islam takut makan babi.

Bayangkan jika pejabat merasa jijik terhadap uang haram sebagaimana jijiknya mereka terhadap daging babi. Bayangkan jika mark-up proyek dianggap najis. Bayangkan jika setiap rupiah hasil suap terasa seperti racun yang mengotori tubuh dan keluarga.

Mungkin negeri ini tidak akan semiskin sekarang dalam keadilan.

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum administratif. Ia adalah kejahatan moral. Uang yang dicuri dari negara bukan uang kosong. Di dalamnya ada hak anak yatim, biaya sekolah, obat orang sakit, jalan desa, bantuan petani, dan masa depan rakyat kecil.

Tetapi anehnya, sebagian pelaku korupsi tetap bisa tampil religius. Tetap fasih bicara agama. Tetap tersinggung bila disebut tidak islami.

Kita hidup dalam zaman ketika simbol kesalehan kadang lebih penting daripada substansi kesalehan.

Hal yang sama juga terjadi dalam urusan dusta.

Hari ini kebohongan tidak lagi dianggap dosa besar. Ia hanya berganti nama. Dalam politik disebut strategi. Dalam bisnis disebut teknik pemasaran. Dalam media sosial disebut pencitraan. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, dusta sering dianggap bagian dari kecerdasan sosial.

Padahal Rasulullah SAW sangat keras terhadap kebohongan. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Namun kini kebohongan justru diproduksi secara massal. Orang berbohong tanpa rasa bersalah, lalu mengulanginya dengan percaya diri.

Ironinya, orang yang sangat hati-hati memilih makanan halal kadang begitu ringan memainkan lidahnya.

Lebih menyedihkan lagi, ghibah sudah menjadi hiburan kolektif masyarakat kita.

Warung kopi hidup dari membicarakan aib orang. Grup WhatsApp ramai karena menyebarkan cerita orang lain. Pertemuan-pertemuan sosial sering berubah menjadi forum pembunuhan karakter. Bahkan tidak jarang mimbar agama pun dipenuhi sindiran personal dan serangan terselubung.

 

Al-Qur’an menggambarkan ghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri yang telah mati. Gambaran yang sangat menjijikkan. Tetapi dosa ini justru dinikmati sambil tertawa.

Kita jijik kepada babi, tetapi tidak jijik kepada lidah sendiri.

Demikian pula dengan pengkhianatan. Amanah kini sering hanya menjadi slogan. Janji diucapkan ringan, lalu dilanggar tanpa beban. Jabatan yang seharusnya dipakai melayani rakyat justru dipakai memperkaya diri dan kelompok.

Yang lebih berbahaya, semua itu sering dibungkus dengan simbol agama. Penampilan tetap religius. Ucapan tetap islami. Kata-kata penuh dalil. Tetapi perilaku sosial justru bertolak belakang dengan ajaran yang dibela.

Di sinilah masalah besar umat hari ini: agama perlahan direduksi menjadi identitas luar, sementara inti moralnya mulai kehilangan daya hidup.

Padahal Islam bukan hanya agama tentang halal dan haram makanan. Islam juga agama kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap hak manusia.

Islam tidak hanya mengatur apa yang masuk ke perut, tetapi juga apa yang keluar dari mulut. Islam tidak hanya melarang babi, tetapi juga melarang zalim, fitnah, dusta, suap, dan pengkhianatan.

Karena itu, ukuran kesalehan tidak boleh berhenti pada simbol-simbol lahiriah semata.

Seseorang mungkin tidak pernah menyentuh babi seumur hidupnya, tetapi setiap hari memakan hak orang lain. Seseorang mungkin sangat menjaga makanan halal, tetapi lidahnya menjadi sumber fitnah dan kebencian. Seseorang mungkin terlihat saleh di depan publik, tetapi menjadi ancaman bagi keadilan ketika memegang kekuasaan.

Tulisan ini tentu bukan untuk meremehkan haramnya babi. Haram tetap haram. Syariat tetap wajib dijaga. Menghindari makanan haram adalah bagian dari iman yang harus dihormati.

Namun agama akan menjadi pincang bila umat hanya sensitif terhadap satu jenis dosa, lalu mati rasa terhadap dosa-dosa sosial yang jauh lebih merusak kehidupan bersama.

Sebab korupsi menghancurkan masa depan rakyat.

Dusta menghancurkan kepercayaan.

Ghibah menghancurkan persaudaraan.

Khianat menghancurkan peradaban.

Dan kerusakan itu nyata kita saksikan setiap hari.

Untunglah Islam tidak diukur dari perilaku sebagian pemeluknya. Untung ada ajaran yang tetap suci meski manusia sering gagal menjalankannya dengan utuh. Kita masih melihat dan meyakini bahwa Islam yang murni benar-benar haq, meski kadang pemeluknya belum sepenuhnya mampu memantulkan keindahan ajarannya dalam kehidupan nyata.

Fal-‘ilmu ‘indallāhi, wa huwal-muwaffiqu likulli khairin.

Penulis adalah Pengamat Bumoe Singet dan Ketua Umum DPP ISAD ACEH