Oleh: Mustafa Husen Woyla
Kemenangan Tgk. Habibi Nawawi sebagai Juara 1 AKSI Indosiar 2026 dan sambutan pemerintah Aceh serta masyarakat luas di Aceh bukan sekadar kemenangan, Bagi kita di Serambi Mekkah, ini adalah sebuah sign of time pertanda zaman. Alhamdulillah, kebanggaan ini patut dirayakan dengan sujud syukur. Namun, sebagai masyarakat yang berpikir jauh ke depan, tanyoe tidak boleh berhenti pada euforia. Kebanggaan terhadap figur harus segera ditransformasikan menjadi energi kolektif untuk memperkuat sistem regenerasi yang sistematis.
Habibi Nawawi, putra Abon Sabirin dari Bumi Teuku Umar, adalah bukti hidup. Ia adalah anomali yang menjadi arus utama setelah perjalanan menimba ilmu yang panjang dan ajang pencarian bakat. Namun, tugas besar tanyoe ke depan adalah memastikan bahwa mata rantai ini tidak terputus. Kita tidak ingin Habibi menjadi bintang tunggal yang redup ditelan waktu; kita ingin ia menjadi pembuka pintu bagi gelombang mubaligh Aceh lainnya untuk kembali mewarnai cakrawala Nusantara.
Menggugat Sejarah, Menagih Janji Masa Depan
Selama berabad-abad, Aceh telah memegang mandat sejarah sebagai pusat gravitasi ilmu di Asia Tenggara. Mayoritas sejarawan sepakat bahwa Islam di Nusantara, bahkan hingga ke semenanjung Malaya, bermula dari titik nol di Aceh. Jejak dakwah Walisongo yang legendaris pun disinyalir kuat memiliki akar silsilah dan intelektual yang tersambung ke tanah rencong ini.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, kita sering kali berada dalam posisi ‘diceramahi’ oleh pihak luar. Ada semacam keterputusan narasi antara kegemilangan masa lalu dengan realitas dakwah kontemporer. Momentum Teungku Habibi Nawawi adalah “Wasilah” untuk menjemput kembali kejayaan itu. Kita harus sadar bahwa Aceh memiliki mandat sejarah untuk menyinari Nusantara dengan integritas ilmu dan keluasan akhlak. Pendidikan Islam di Aceh harus kembali memiliki daya tawar yang tak terbantahkan di level nasional.
Formulasi Baru: Dari Otodidak Menuju Institusional
Kemenangan Habibi juga menjadi tamparan halus bagi dunia akademik kita. Selama ini, harus diakui bahwa lahirnya dai-dai hebat di Aceh lebih banyak terjadi secara otodidak atau melalui tempaan alami di dayah tanpa kurikulum komunikasi yang terstruktur secara modern. Jika kita ingin mencetak seribu Habibi lainnya, maka kampus-kampus yang membuka jurusan Dakwah harus berbenah total.
Lon mengusulkan agar kita tidak lagi membiarkan bakat-bakat ini tumbuh “liar” sendirian. Perlu ada upaya serius untuk membentuk sebuah lembaga khusus, sebut saja “Akademisi Dakwah” atau “Pusat Pengembangan Mubaligh” yang fungsinya serupa dengan LPTQ dalam membina para Qari.
Lembaga ini harus menjadi kawah candradimuka yang fokus pada pengasahan teknik retorika, penguasaan psikologi massa, hingga manajemen media digital, tanpa meninggalkan kedalaman literatur kitab kuning. Kita butuh institusi yang mampu memetakan potensi kader sejak dini, membina mereka, dan mempersiapkan mereka untuk bertarung di panggung nasional maupun internasional. Tanpa lembaga yang fokus, regenerasi dakwah kita hanya akan bergantung pada keberuntungan nasib, bukan pada rancangan masa depan.
Dilema Momentum: Pendidikan atau Eksistensi?
Bagi seorang pendatang baru seperti Tgk. Habibi, kemenangan ini membawa konsekuensi eksistensial yang berat. Sering kali muncul dilema: apakah harus segera melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, menunaikan sunnah pernikahan, atau langsung terjun mengelola momentum popularitas yang ada?
Dalam dunia yang bergerak secepat kilat, kesempatan memang jarang terulang dua kali. Namun, lon berpendapat bahwa momentum bukanlah sesuatu yang hanya harus dikonsumsi, melainkan dikelola. Habibi tidak perlu memilih salah satu dengan mengorbankan yang lain secara total. Ilmu (pendidikan) adalah akar, sementara popularitas adalah buah. Tanpa akar yang semakin dalam, buah akan cepat habis dipetik musim. Integritas keilmuan yang matang justru akan membuat daya tawar sang mubaligh tetap awet melampaui tren sesaat.
Profesionalisme: Nafas Baru Manajemen Dakwah
Dakwah adalah tugas suci, namun ia tidak boleh dijalankan dengan amatiran. Di sinilah pentingnya manajemen dakwah yang solid. Sering kali, sisi spiritual dianggap bertentangan dengan prosedur formal, padahal keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama.
Bagi dai baru seperti Habibi, manajemen adalah benteng. Plusnya, ia membangun citra profesional yang membuat pesan dakwah lebih dihargai di ruang publik yang heterogen. Minusnya, jika terlalu kaku, ada risiko jarak emosional dengan jamaah.
Namun, kita harus waspada agar tidak terjebak dalam birokrasi yang mematikan ruh dakwah itu sendiri.
Masyarakat hari ini membutuhkan kenyamanan dan akurasi waktu. Fasilitas yang rapi akan membuat pesan lebih mudah diserap. Namun, tanyoe harus tetap menjaga ketulusan agar sisi spiritual tidak luntur. Dan ingat, Manajemen adalah alat, bukan tujuan. Tujuannya tetaplah menyentuh hati umat.
Membongkar Tembok Non Aceh Sentris dan Mentalitas Inferior
Mari kita bicara jujur: panggung nasional sering kali terasa “Non Aceh”. Hal ini secara tidak sadar memupuk sikap inferioritas atau rasa minder di kalangan mubaligh daerah. Banyak yang merasa bahwa tanpa logat atau gaya tertentu, mereka tidak akan diterima di panggung pusat.
Padahal, Aceh tidak kekurangan stok intelektual spiritual. Kita punya Waled Mulyadi Jamil yang mengakar di Aceh Tgk. Masrul Aidi dengan retorika kritisnya pimpinan Dayah Babul Magfirah, hingga Tgk. Umar Rafsanjani yang sudah mengepakkan sayap dakwah hingga ke mancanegara. Mereka adalah adalah senior Tgk Habibi Nawawi secara umur dan pengalaman dakwah.
Lalu, mengapa panggung nasional seolah masih jauh dari jangkauan banyak mubaligh kita?
Masalahnya bukan pada kualitas ilmu, melainkan pada pemanfaatan “wasilah” atau perantara. AKSI Indosiar hanyalah salah satu pintu. Kemenangan Habibi membuktikan bahwa konten dakwah dari dayah-dayah Aceh mampu bersaing dan memikat hati publik Indonesia jika dikemas dengan tepat. Kita butuh lebih banyak “Akuisisi Nasional” terhadap pemikiran-pemikiran ulama Aceh.
Simpul kata, Menjadi Subjek, Bukan Objek.
Teungku Habibi Nawawi adalah alarm pengingat. Ia mengingatkan bahwa anak-anak muda Aceh memiliki kapasitas untuk memimpin narasi keagamaan di Indonesia. Kita tidak boleh lagi merasa rendah diri. Mentalitas “rendah” harus dikubur dalam-dalam.
Ke depan, tanyoe harus memperkuat sistem pendukung (support system) bagi para mubaligh muda. Baik itu melalui pembenahan kurikulum jurusan dakwah di kampus-kampus maupun melalui lembaga pembinaan dai yang terstruktur. Kita ingin ke depan, ketika orang mencari rujukan agama yang moderat, berilmu, dan berakhlak, mata mereka akan tertuju kembali ke arah matahari terbit di ufuk barat Nusantara: Aceh.
Melalui wasilah Aneuk Meutuah Tgk. Habibi Nawawi, mari kita susun kembali kepingan sejarah yang sempat terserak. Saatnya Aceh kembali menjadi obor bagi Nusantara, bukan sekadar menjadi penonton di pinggir panggung sejarahnya sendiri.
#Penulis adalah Ketua DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah dan Wakil Pimpinan Dayah Abu Krueng Kalee juga aktif sebagai Pengamat Bumoe Singet.






