Oleh: Tgk Alizar Usman MHum
Editor: Agus Ramadhan
Sumber: Serambi Indonesia (Senin, 6 Mei 2024)
Pembahasan tentang takdir sering dianggap rumit karena adanya dalil yang sepintas saling bertentangan. Di satu sisi, semua kejadian tercatat di Lauh Mahfudz dan tidak berubah. Di sisi lain, ada dalil bahwa doa dan silaturahmi dapat mengubah takdir atau memperpanjang umur.
Untuk menguraikan kerumitan ini, para ulama membagi takdir (qadha) ke dalam dua kategori utama:
Qadha Mubram: Takdir yang bersifat paten, tidak dapat berganti atau berubah.
Qadha Mu’allaq: Takdir yang digantungkan pada perbuatan manusia (ikhtiar). Jika perbuatan tersebut dilakukan, maka takdirnya berubah sesuai ketetapan Allah.
Agar tidak terjadi kebingungan, kita perlu melihat takdir dari tiga kacamata yang berbeda:
Dalam ilmu Allah yang tanpa batas, tidak ada yang tersembunyi. Allah sudah mengetahui apa yang akan terjadi, sedang terjadi, dan hasil akhir dari setiap pilihan manusia.
Sifat: Pada level ini, seluruh takdir adalah Mubram.
Alasan: Jika takdir berubah di level ilmu Allah, berarti ada sesuatu yang awalnya tidak diketahui Allah. Hal ini mustahil bagi Tuhan.
Malaikat yang bertugas (seperti pembagi rezeki atau pencabut nyawa) melihat catatan di Lauh Mahfudz.
Sifat: Di sini terdapat Qadha Mu’allaq.
Contoh: Malaikat melihat catatan: “Si Fulan umurnya 60 tahun, tapi jika ia rajin bersilaturahmi, umurnya menjadi 100 tahun.” Malaikat tidak tahu pilihan mana yang akan diambil Fulan sampai hal itu terjadi, meskipun Allah sudah mengetahuinya sejak awal.
Manusia sama sekali tidak mengetahui catatan di Lauh Mahfudz. Kita hanya mengetahui takdir setelah peristiwa itu terjadi.
Sifat: Bagi manusia, masa depan sepenuhnya terlihat sebagai Mu’allaq (masih bisa diusahakan).
Prinsip: Karena kita tidak tahu takdir kita, kita wajib berikhtiar (berusaha). Nabi SAW bersabda: “Berusahalah, semua akan dimudahkan.” (HR. Bukhari & Muslim).
Secara hakikat, perubahan itu terjadi pada catatan di tangan Malaikat, bukan pada ilmu Allah.
Contoh Umur: Allah sudah tahu si Fulan akan bersilaturahmi dan akan hidup hingga 100 tahun. Namun dalam catatan malaikat, tertulis dua kemungkinan tersebut untuk memotivasi manusia berbuat baik.
Contoh Doa: Doa bisa mendatangkan “kelembutan” Allah. Misalnya, jika seseorang ditakdirkan tertimpa batu besar (Mubram), berkat doanya, Allah menjadikan batu tersebut hancur menjadi butiran pasir sebelum mengenai orang tersebut.
Dalam memahami takdir, umat Islam (Ahlussunnah wal Jamaah) berdiri di tengah-tengah:
Bukan Jabariyah: Yang percaya manusia seperti boneka tak punya daya (pasrah total tanpa usaha).
Bukan Qadariyah: Yang percaya manusia menciptakan perbuatannya sendiri tanpa campur tangan dan pengetahuan Allah.
Ahlussunnah wal Jamaah: Percaya bahwa Allah telah menetapkan takdir, namun Allah memberikan manusia Ikhtiar (pilihan dan usaha) untuk menyambut takdir tersebut.
Wallahua’lam bisshawab.
http://sumber https://aceh.tribunnews.com/2024/05/06/memahami-sudut-pandang-takdir