Syech Edi Syuhada Penjaga Tradisi dan Ketulusan Khidmat
Dalam lanskap pendidikan Islam di Aceh, nama Syech Edi Syuhada merepresentasikan pertautan yang kokoh antara kedalaman literatur klasik dan kerendahan hati dalam pengabdian. Sebagai figur sentral dalam Tim Dewan Pakar ISAD, peran beliau melampaui fungsi pengajar semata. Ia hadir sebagai pelatih keilmuan yang matang, dengan kemampuan mentransfer keahlian qiraatil kutub atau pembacaan kitab turats kepada generasi penerus secara sistematis dan berkarakter.
Kedalaman ilmu Syech Edi merupakan hasil dari penempaan panjang dalam lingkungan pendidikan dayah yang kuat. Jejak keilmuannya bermula dari Dayah BUDI Lamno dan Dayah Darussalam Labuhan Haji, lalu diperluas melalui studi di Sudan dan Mesir. Rangkaian pengalaman ini membentuknya sebagai sosok yang fasih menembus kompleksitas teks-teks klasik. Di kalangan pendidik dayah, beliau dikenal sebagai gudang kitab turats karena penguasaannya yang luas terhadap hampir seluruh cabang ilmu dayah.
Di Dayah Darul Ihsan, Syech Edi dipercaya sebagai guru khusus yang mengupas kitab-kitab fundamental, termasuk Mahalli, dengan ketelitian dan kedalaman. Perannya tidak berhenti di ruang kelas. Pemikiran dan otoritas ilmiahnya juga berkontribusi bagi umat melalui keikutsertaannya dalam Bahtsul Masail Tastafi Pusat, sebuah forum pengkajian hukum Islam yang menuntut kecermatan, keluasan referensi, dan tanggung jawab keilmuan.
Selain kapasitas intelektual, Syech Edi memiliki rekam jejak kepemimpinan yang kuat. Pengalamannya sebagai Wakil Pimpinan Bidang Kedayahan mencerminkan kemampuannya dalam mengelola lembaga pendidikan secara terstruktur. Ia mampu memadukan disiplin kurikulum dengan pendekatan yang humanis, sehingga nilai-nilai tradisional dayah tetap terjaga sekaligus relevan dengan tuntutan zaman.
Yang menjadikan sosok Syech Edi begitu dihormati, baik di lingkungan ISAD maupun Dayah Darul Ihsan, bukan hanya keluasan ilmunya, tetapi juga karakter sosialnya yang membumi. Ia dikenal dermawan, ringan tangan, dan tidak segan membantu santri maupun masyarakat tanpa menonjolkan diri. Dalam pergaulan, beliau menjaga adab dan sikap hormat kepada siapa pun, sebuah cerminan ulama yang mengamalkan ilmunya dalam laku hidup sehari-hari.
Melalui Bale Beut Syuhada di kediamannya serta kajian-kajian rutin di masjid-masjid sekitar Aceh Besar, Syech Edi terus menyapa dan membina masyarakat. Bagi beliau, ilmu adalah amanah yang harus disampaikan dengan ketulusan. Kehadirannya menjadi penyejuk, sekaligus peneguh arah bagi siapa saja yang ingin menapaki jalan syariat dengan ilmu dan adab. [Tim Lipsus ISAD]