Prof. Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag

Ketua Dewan Pakar ISAD, Prof Syamsul Rijal dan Seni Menjaga Jarak Akal

Ia tinggi. Badannya panjang, seperti pikirannya yang jarang berhenti di permukaan. Jenggot, brewok, menjadi penanda pertama. Tapi bukan itu yang membuatnya mudah dikenali. Yang lebih menonjol adalah caranya diam. Diam yang berpikir.

Prof. Dr. H. Syamsul Rijal bukan tipe yang buru-buru menyimpulkan. Ia lebih suka mendengar. Mengamati. Lalu bicara seperlunya. Kalimatnya tidak banyak, tapi sering membuat orang berhenti sejenak. Mikir.

Ia seorang filsuf. Bukan hanya karena gelarnya sebagai Guru Besar Ilmu Filsafat Islam. Tetapi karena hidupnya sendiri adalah latihan berpikir. Ia terbiasa berdiri agak ke belakang, melihat persoalan dari sudut yang jarang dilihat orang lain. Ide-idenya kerap berbeda. Kadang tidak populer. Namun selalu punya dasar.

Tersebab itulah Sang Guru Besar itu kembali terpilih sebagai Ketua Dewan Pakar DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh bersama sejumlah pakar lainya dari akademisi yang berbasis Dayah.

Lahir di Perapat Hulu, Aceh Tenggara, 30 September 1963, ia tumbuh bersama tradisi ilmu dan kesederhanaan. Pendidikan membawanya dari dayah, kampus, hingga ruang-ruang akademik lintas negara. Dari Samalanga ke Yogyakarta. Dari Banda Aceh ke Kanada. Namun ia pulang dengan tetap menjadi dirinya sendiri.

Di kampus, ia tegas. Ukurannya jelas. Tetapi ketegasan itu tidak meledak-ledak. Tidak pula menekan. Ia seperti garis lurus yang tenang. Mahasiswa tahu batas. Dosen tahu arah.

Di luar kampus, ia mudah bergaul. Duduk dengan siapa saja. Membantu tanpa banyak bertanya. Tidak suka menonjolkan jasa. Ia lebih nyaman bekerja di balik layar, memastikan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

Ia pernah menjadi dekan, wakil rektor, ketua forum, dan ketua dewan pakar. Jabatan datang dan pergi. Tetapi satu hal tetap. Cara berpikirnya yang jernih dan terukur. Tidak reaktif.

Barangkali, di zaman yang ribut dan tergesa ini, sosok seperti Prof Syamsul Rijal memang dibutuhkan. Bukan untuk paling keras bersuara. Melainkan untuk menjaga agar akal tetap bekerja. Dan nurani tidak kehilangan arah. [*]