Pak Wa dan Disiplin yang Tidak Pernah Berisik
Di Aceh, kita sering menjumpai orang pandai yang tidak merasa perlu meninggikan suara.
Ia tidak memukul meja, tidak gemar mengangkat alis, dan tidak sibuk menunjukkan diri.
Namun ketika ia bicara, orang lain justru memilih diam.
Drs. Muhammad Nasir, yang di lingkungan Dewan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Alumni Dayah (DPP ISAD) lebih akrab dipanggil Pak Wa, termasuk jenis manusia semacam itu.
Ia bukan tipe yang datang dengan pidato panjang dan jargon berlapis-lapis seperti khutbah maulid.
Ia datang dengan waktu yang tepat.
Dan di Aceh, juga di mana pun di dunia, menjaga waktu adalah salah satu bentuk akhlak yang paling sunyi.
Pak Wa dikenal teliti dan tidak gegabah.
Dalam mengambil keputusan, ia lebih dulu menimbang, bukan menghantam.
Ia menghormati yang lebih muda tanpa perlu menepuk dada,
menghargai sejawat tanpa harus bersekutu,
dan menjaga adab kepada atasan bukan karena takut jabatan,
melainkan karena tahu letak etika.
Yang paling kentara dari dirinya adalah sikap kepada pemangku ilmu.
Di hadapan ulama, ia berdiri dengan takzim.
Bukan takzim seremonial,
melainkan takzim yang tumbuh dari keyakinan bahwa ilmu harus selalu didahului oleh adab.
Kecintaannya kepada dunia dayah tidak berhenti pada kata.
Putrinya menamatkan pendidikan dan kini mengajar di salah satu dayah terbesar di Aceh,
sebuah bukti bahwa keyakinan itu diwariskan, bukan sekadar diucapkan.
Dalam keseharian, Pak Wa dikenal saleh dan bersahaja.
Dan ini penting, ia tidak menggurui,
padahal ia sendiri adalah seorang guru.
Dari Fisika ke Dayah, Jalan Panjang yang Konsisten
Latar akademiknya kerap mengejutkan orang.
Ia adalah lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry,
Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Alam.
Fisika, tepatnya.
Ilmu yang mengajarkan keteraturan, hukum sebab-akibat, dan ketepatan waktu.
Barangkali dari sanalah kebiasaannya yang rapi dan presisi itu berakar.
Sejak semester lima hingga menamatkan S-1,
Pak Wa tercatat sebagai penerima Beasiswa Supersemar.
Sebuah bantuan yang datang bukan kepada yang paling ribut,
melainkan kepada mereka yang tekun dan konsisten.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Meureudu.
SD Negeri Babah Jurong, SMP Negeri 1 Meureudu, dan SMA Negeri Meureudu.
Jalur pendidikan daerah yang membentuk watak,
sebelum ia membuka jendela ke dunia kampus.
Kariernya dimulai sebagai Guru Fisika di MAN 2 Sigli pada 1993 hingga 1999.
Dari ruang kelas itulah ia belajar satu hal penting,
bahwa ilmu tidak harus disampaikan dengan suara keras agar sampai.
Ia kemudian dipercaya memimpin beberapa madrasah.
Kepala MAN Trienggadeng, Kepala MAN Ulim, dan kembali ke Kepala MAN 2 Sigli.
Semua dijalani dengan pola yang sama,
bekerja tanpa gaduh, selesai tanpa ribut.
Birokrasi yang Tidak Kehilangan Akhlak
Masuk ke wilayah birokrasi tidak mengubah wataknya.
Ia sempat bertugas sebagai Staf Bappeda Pidie Jaya dan Staf Sekretariat Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Namun pengabdian terpanjangnya tetap berada di wilayah yang paling ia pahami,
pendidikan dayah dan pemberdayaan santri.
Sebagai Kepala Bidang Pemberdayaan Santri Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh pada 2008 hingga 2015,
lalu Kepala UPTB Islamic Center,
dan kembali sebagai Kepala Bidang Pemberdayaan Santri Dinas Pendidikan Dayah Aceh,
Pak Wa menunjukkan satu hal penting.
Birokrasi bisa tetap beradab jika dijalankan oleh orang yang paham batas.
Ketika dipercaya memimpin Bidang Perlindungan Masyarakat Satpol PP dan Wilayatul Hisbah Aceh pada 2020 hingga 2025,
ia membuktikan bahwa ketegasan tidak harus kasar.
Di bawah kepemimpinannya,
bidang Linmas Satpol PP dan WH Aceh pernah mencapai peringkat keenam tingkat nasional,
sebuah capaian yang lahir dari kerja senyap dan disiplin.
Sejak 27 September 2025 hingga sekarang,
ia mengemban amanah sebagai Kepala UPTD Pengembangan dan Pemahaman Al-Qur’an
Dinas Syariat Islam Aceh.
Sebuah jabatan yang menuntut bukan hanya kecakapan administratif,
tetapi juga kedalaman akhlak.
Insya Allah, mulai 1 Januari 2026,
Pak Wa akan memasuki masa purnatugas.
Bukan sebagai akhir, melainkan sebagai penanda selesainya satu fase pengabdian panjang.
Pengabdian yang Dicatat, Bukan Dikejar
Pak Wa bukan orang yang memburu piagam,
namun negara mencatatnya dengan baik.
Ia menerima Satya Lencana Karya Satya 10, 20, hingga 30 Tahun
dari Presiden Republik Indonesia,
sebuah pengakuan atas pengabdian yang konsisten dan tidak tergesa.
Di luar struktur pemerintahan,
ia tetap setia pada dunia yang membesarkannya.
Ia tercatat sebagai Dewan Kehormatan DPP ISAD,
pengurus TASTAFI Pusat,
serta pengurus DPW HIPSI Aceh.
Baru-baru ini,
ia juga terlibat dalam MTQ Tingkat Provinsi Aceh ke-37 Tahun 2025 di Kabupaten Pidie Jaya.
Surah bulit,
Pak Wa bukan sosok yang gemar dikenang dengan sorak.
Ia lebih memilih meninggalkan keteraturan.
Dalam sunyi kerjanya, disiplin tumbuh, adab terjaga, dan tugas selesai.
Ketika jabatan berakhir, teladan tetap berjalan.
Itulah warisan paling tenang—dan paling lama hidup. [*]