Muhammad Zulfajri, S.Pd., M.Sc., Ph.D

Doto Fajri, Kerja Sunyi Menjaga Kepercayaan

Sosok yang dipanggil Doto Fajri.

Nama lengkapnya Muhammad Zulfajri, S.Pd., M.Sc., Ph.D. Di belakang namanya berderet gelar akademik. Tapi dalam keseharian, ia tidak pernah memulainya dari sana.

 

Di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Alumni Dayah, Fajri memegang satu posisi yang jarang diperebutkan: Bendahara Umum. Ia menjalaninya bukan sekali. Dua kali. Periode 2022 sampai 2025. Lalu dilanjutkan lagi 2025 sampai 2030.

Kepercayaan dua periode itu tidak lahir dari pidato.

Ia lahir dari kebiasaan.

Doto Fajri bukan tipe yang menonjolkan diri. Ia lebih sering hadir dalam bentuk laporan yang rapi, catatan yang lengkap, dan keputusan keuangan yang tenang. Ia tahu, dalam organisasi, uang adalah soal sensitif. Salah sedikit, dampaknya panjang.

 

Wataknya cenderung pantang menyerah. Ia tidak mudah menyerah pada keadaan yang berbelit. Ketika dana terbatas, ia tidak mengeluh. Ia menghitung ulang. Menyusun prioritas. Memilih mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditunda.

 

Ia pekerja keras, tapi tidak tergesa.

Disiplin, tapi tidak kaku.

 

Menariknya, Doto Fajri seorang akademisi. Dosen kimia. Lektor Kepala dan Peneliti. Namun ketika masuk ke dunia organisasi, caranya bekerja lebih menyerupai birokrat ulung. Sistematis. Terstruktur. Taat prosedur. Ia paham alur. Ia paham konsekuensi.

Doto Fajri saat ini sedang mengikuti kegiatan postdoctoral di taiwan dengan pendanaan dari NSTC (National Science and Technology Council).

Pengalamannya pernah bersentuhan dengan dunia perbankan tampaknya ikut membentuk cara pandangnya. Ia terbiasa berhitung. Tidak mudah tergoda angka besar. Tidak pula panik menghadapi kekurangan.

 

Ia dikenal hemat dan penuh perhitungan.

Bukan karena takut mengeluarkan dana.

Tetapi karena tahu, setiap rupiah adalah titipan.

 

Di mejanya, sifat bendaharawan yang baik hadir secara utuh.

Ia jujur. Tidak memanipulasi angka. Tidak bermain di celah.

Ia teliti. Angka kecil tidak disepelekan. Salah nol baginya bukan kesalahan sepele.

Administrasinya rapi. Catatan masuk dan keluar jelas. Bukti tersimpan.

Ia disiplin. Laporan tidak menunggu diminta.

Ia amanah. Uang organisasi tidak pernah ia perlakukan sebagai milik sendiri.

Ia tenang. Saat ditanya, ia menjelaskan. Saat diperiksa, ia siap.

Ia transparan. Data dibuka jika diperlukan.

Ia konsisten. Cara kerja tidak berubah-ubah.

Dan satu hal yang paling terasa: ia tidak banyak gaya.

 

Ia tahu, bendahara tidak perlu sorotan.

Cukup kepercayaan.

 

Di luar kerja organisasi, Doto Fajri menjalani kehidupan akademik dengan disiplin yang sama. Ia menempuh pendidikan dasar di Aceh Utara. Mondok di dayah sejak muda. Darul Abrar. Ulumuddin. Tradisi itu membentuk ketekunan dan kesederhanaannya.

 

Sarjana ia selesaikan di Universitas Syiah Kuala, bidang Pendidikan Kimia. Lalu melanjutkan studi magister di National Sun Yat-sen University, Taiwan. Doktoralnya ditempuh di Kaohsiung Medical University, juga di Taiwan. Ia menekuni kimia lingkungan, kimia analitik, dan material berkelanjutan.

 

Bidang risetnya spesifik. Sensor polutan. Biomassa. Limbah. Mikroplastik. Karbon dots. Ia menulis puluhan artikel ilmiah. Sitasi menembus seribu. Indeks H dua digit. Namun capaian itu tidak membuatnya berjarak dengan lingkungan.

 

Sebagai dosen Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan, ia menjalani perannya apa adanya. Mengajar. Meneliti. Membimbing. Menulis. Ia membagi waktunya dengan rapi, antara kampus dan organisasi.

 

Beberapa beasiswa dan hibah pernah ia terima. Pemerintah Aceh. Pemerintah Taiwan. Hibah penelitian nasional. Semua itu ia anggap bagian dari proses, bukan tujuan akhir.

 

Di ISAD, Doto Fajri tidak menawarkan gagasan besar.

Ia menawarkan kepastian.

 

Bahwa laporan bisa dipercaya.

Bahwa dana tidak menguap.

Bahwa organisasi berjalan tanpa kegaduhan keuangan.

 

Mungkin itulah sebabnya ia kembali diminta melanjutkan amanah.

Bukan karena ia paling lantang.

Tetapi karena ia paling bisa diandalkan.

Dalam dunia yang sering ribut oleh kata-kata,

Doto Fajri memilih menjaga angka.

Dan dari sana, kepercayaan tumbuh dengan sendirinya. [ Tim Liputan Khusus ISAD]