Ir. Tgk. Saiful Hadi, S.T,.M.T

| Teungku Saiful Hadi: Tenang yang Membangun  |

Ada orang-orang yang kehadirannya tidak bising, tetapi terasa.

Tidak banyak bicara, namun langkahnya meninggalkan jejak.
Teungku Saiful Hadi adalah salah satunya.

Pria bernama lengkap, Ir. Tgk. Saiful Hadi, S.T,.M.T.Ia lahir di Banda Aceh pada 27 Mei 1988, di sebuah tanah yang akrab dengan zikir, ilmu, dan ujian sejarah. Sejak awal, hidupnya bergerak dalam irama yang pelan, namun pasti. Pendiam. Kalem. Lebih sering mendengar daripada berbicara. Tetapi ketika suara itu keluar, ia jernih, tertata, dan menenangkan.

Akar Dayah, Nafas Kehidupan
Sepuluh tahun hidupnya, dari 2000 hingga 2010, dibaktikan di Dayah Darul Aman Lubuk, di bawah bimbingan Abu H. Muhammad Lubuk. Di sanalah fondasi utamanya dibangun: adab sebelum ilmu, diam sebelum bicara, khidmat sebelum tampil. Dayah tidak hanya membentuk cara berpikirnya, tetapi juga cara hidupnya.
Dari dayah itu pula tumbuh kecintaannya pada Al-Qur’an. Ia bukan hanya membacanya, tetapi menghadirkannya dalam suara. Sebagai qari, lantunan ayat baginya bukan sekadar bacaan, melainkan doa yang berjalan.

Ilmu Modern, Jiwa Tradisi
Teungku Saiful Hadi tidak melihat pertentangan antara dayah dan kampus. Ia menjembataninya. Ia menempuh pendidikan Teknik Sipil di Universitas Syiah Kuala, menyelesaikan sarjana pada 2012, magister pada 2020, dan meraih gelar profesi Insinyur pada 2024. Spesialisasinya pada rekayasa struktur, bidang yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab.
Namun di balik angka, rumus, dan desain, ia tetap seorang santri. Arsitektur dan teknik baginya bukan sekadar bangunan fisik, tetapi amanah sosial. Bagaimana ruang dapat memuliakan ibadah, menenangkan jiwa, dan melayani manusia.

Guru, Dosen, dan Pembelajar Seumur Hidup
Mengajar adalah napas panjang hidupnya. Ia mengabdi sebagai guru di Dayah Darul Aman Lubuk hingga kini, pernah mengajar di Diniyah Kota Banda Aceh, dan sejak 2015 menjadi laboran arsitektur di UIN Ar-Raniry. Sejak 2020, ia dipercaya sebagai Dosen Luar Biasa Prodi Arsitektur di kampus yang sama.
Ia mengajar dengan keteladanan, bukan dengan suara keras. Mahasiswa mengenalnya sebagai sosok yang teduh, terukur, dan rapi dalam berpikir.

Imam yang Hadir, Bukan Sekadar Memimpin
Di masjid, ia berdiri paling depan, bukan untuk dilihat, tetapi untuk memikul amanah. Ia menjadi Imam Rawatib di beberapa masjid: Jamik Lambaro, Baitul Izzati Lamgarot, dan Al-Ikhlas Lubuk. Bacaan shalatnya tenang. Gerakannya tidak tergesa. Jamaah merasa dipandu, bukan digesa.

Menulis, Membangun, dan Berdakwah Digital
Dakwahnya tidak hanya di mimbar. Ia hadir di ruang digital melalui catatanfiqih.com, dan membangun platform pembelajaran arsitektur upsekil.com, sebagai ikhtiar menyebarkan ilmu secara sistematis dan mudah diakses.
Karya tulisnya hadir dalam bentuk antologi reflektif, buku teknis, hingga ebook berbasis teknologi AI. Ia menulis bukan untuk populer, tetapi untuk berguna.

Ayah, Suami, dan Rumah yang Teduh
Di luar semua peran publik itu, Teungku Saiful Hadi adalah ayah dan suami. Di rumah, ia bukan insinyur, bukan dosen, bukan imam. Ia adalah kehadiran yang menenangkan. Teduh bagi anak-anaknya. Menjadi sandaran bagi istrinya. Rumah baginya bukan sekadar bangunan, tetapi tempat pulang yang penuh rahmat.

Amanah Sosial
Ia dipercaya sebagai Ketua Tuha Peut Gampong Siron, dan wakil ketua pengurus DPP Ikataan Sarjana Alumni Dayah (ISAD). Amanah itu ia jalani dengan gaya yang sama, tidak banyak bicara, tetapi bekerja.

Penutup
Teungku Hadi itu panggilan akrabnya, ia  tidak mengejar sorotan.
Ia membangun dalam diam.
Mengajar dengan contoh.
Memimpin dengan ketenangan.

Dalam dunia yang semakin gaduh, ia memilih menjadi tenang yang membangun.
[Tim Editorial Biografi Tokoh ISAD]