Abon Prof. Muhib, Figur Teduh dan Tegas, Kini Menjadi Pembina
Abon Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuthabry, M.Ag, nama lengkapnya, Ia lahir di Aceh Barat, 17 Januari 1961.
Dari tanah yang mengenal hujan, doa, dan kitab-kitab yang dibaca dengan sabar.
Di sana, waktu tidak pernah diajarkan sebagai angka melainkan amanah.
Dayah Darul Huda Reusak membesarkannya.
Tempat ilmu disusun perlahan,
tempat kata-kata ditimbang sebelum diucapkan,
tempat adab berjalan lebih dulu dari suara.
Muhibbuthabry tumbuh sebagai ulama yang tepat waktu.
Bukan karena takut terlambat,
tetapi karena menghormati ilmu dan orang-orang yang menunggunya.
Ia percaya: keterlambatan adalah cara paling halus untuk meremehkan amanah.
Ketika menyampaikan ilmu, ia runtut.
Kalimat-kalimatnya tidak meloncat.
Ia membawa pendengarnya berjalan,
bukan berlari.
Mendalam, tapi tidak memberatkan.
Tegas, tanpa meninggikan nada.
Tubuhnya tinggi besar.
Wajahnya sekilas menyimpan jejak Arab dan Eropa.
Wibawanya hadir bahkan saat ia diam.
Namun ia tidak menciptakan jarak.
Ia duduk bersama santri, berbincang dengan petani,
berdiskusi dengan akademisi,
dan mendengar dengan penuh hormat siapa pun yang berbicara.
Ia tegas dalam prinsip,
namun profesional dan proporsional dalam sikap.
Pendapatnya bukan untuk menang,
melainkan untuk menjaga kebenaran tetap berada di tengah.
Kampus mengenalnya sebagai Guru Besar UIN Ar-Raniry.
Ia pernah menjadi dekan, wakil rektor, pengelola pendidikan tinggi.
Namun bagi dirinya sendiri,
dan bagi banyak orang Aceh,
ia tetap seorang anak dayah
yang berjalan ke kampus membawa kitab dan adab.
Hari ini, amanah itu bernama Ketua Pembina Ikatan Sarjana Alumni Dayah
dan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh.
Dua ruang pengabdian
yang menuntut kebijaksanaan lebih dari sekadar kecerdasan.
Di tengah dunia yang tergesa-gesa,
Prof. Tgk. H. Muhibbuthabry memilih berjalan tenang.
Menjaga waktu.
Menyusun ilmu.
Merawat wibawa.
Karena baginya,
ulama bukanlah mereka yang paling keras suaranya,
melainkan yang paling utuh adab dan ilmunya. [*]
.