| Mengenal Lebih Dekat Sosok Waled Rusli dari Bayu dan Dayah Panton Labu |
Waled Rusli, bernama lengkap, Tgk Rusli Daud, SHI., M.Ag, akrab sapa Waled, sebuah panggilan yang lahir bukan dari jarak, melainkan dari keakraban yang tumbuh pelan-pelan. Ia tidak datang dengan suara tinggi atau langkah tergesa. Kehadirannya justru terasa karena ketenangan yang dibawanya. Santun dalam tutur, lembut dalam laku, bersahaja dalam seluruh cara memandang hidup. Ia seperti orang yang paham bahwa hidup tidak selalu harus ditangani dengan gegap gempita.
Waled Rusli lahir di Bayu, Aceh Utara, pada 15 Juli 1974. Dari tanah itu ia mengenal kesederhanaan sejak awal, belajar bahwa sesuatu yang besar sering kali tumbuh dari kebiasaan kecil yang dirawat dengan sabar. Enam belas tahun hidupnya ia habiskan di Dayah Malikussaleh Panton Labu. Waktu yang panjang untuk belajar diam, mendengar, dan menata diri. Dari para guru seperti Abu Panton, Tgk. Zakaria Seunudon, Tgk. Abdul Halim Bayu, Tgk. H. Baihaqi Yahya, Tgk. Yunus Seunudon, hingga Tu Mus Lamteuba, ia belajar satu hal penting bahwa ilmu bukan untuk meninggikan suara, tetapi untuk merendahkan hati.
Pendidikan formal ia jalani tanpa meninggalkan napas dayah. Sekolah dasar di Bayu, tsanawiyah dan aliyah di Pesantren Malikussaleh, lalu Fakultas Syari’ah STAIN Malikussaleh Lhokseumawe, hingga Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Kini, ia melangkah ke jenjang doktoral Studi Islam. Namun gelar-gelar itu tidak pernah ia jadikan jarak. Ia tetap bisa duduk sejajar dengan jamaah, mendengar keluh warga, dan berbincang tanpa merasa perlu menjelaskan siapa dirinya.
Dalam kerja-kerja organisasi, Waled Rusli dikenal sebagai orang yang rapi dan tekun. Seorang organisatoris yang memahami bahwa organisasi bukan sekadar struktur, melainkan manusia dengan ragam latar dan perasaan. Ia memimpin PCNU Kota Banda Aceh selama dua periode, pernah mengemban amanah sebagai Ketua PW RMI Aceh, Wakil Sekretaris Pengurus Besar HUDA, Ketua Nadhiriyah Rabithah Thaliban Aceh, hingga Wakil Ketua PW BAKOMUBIN Aceh. Ia juga terlibat dalam FKUB, Pokjaluh Lintas Agama, Da’i Kebangsaan, dan Ikatan Penyuluh Agama RI. Semua itu ia jalani tanpa banyak cerita. Baginya, jabatan hanyalah alat untuk memastikan kerja tetap berjalan.
Dakwah Waled Rusli berparas tampan itu terasa seperti aliran air yang tenang. Ia menjadi juru dakwah dan khatib Jumat di banyak masjid, termasuk enam tahun sebagai khatib tetap Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Ia tidak gemar menghardik, tidak pula sibuk menghakimi. Kata-katanya lebih sering mengajak merenung. Sejak 2026, ia dipercaya mengisi Halaqah Subuh setiap Rabu di masjid yang sama, membahas tasawuf, sebuah bidang yang menuntut kejernihan batin lebih dari kepiawaian retorika.
Dalam dunia pendidikan, Waled Rusli adalah perintis yang sabar. Tahun 2013, ia memulai LPI Dayah Mishrul Huda Malikussaleh dari sebuah balai kayu berukuran 4 x 6 meter. Tidak ada peresmian besar, tidak ada janji-janji berlebihan. Ia hanya menanam, lalu merawat. Hari ini, dayah itu tumbuh dengan beberapa bangunan permanen, menaungi SMP dan Madrasah Aliyah, serta berdiri di bawah yayasan berbadan hukum. Ia membangun pendidikan seperti orang menanam pohon, tidak memaksa cepat berbuah, tetapi setia menyiram.
Sejak 2023, amanah baru datang dari negara. Ia diangkat sebagai Penyuluh Agama Islam PPPK Kementerian Agama. Tugas itu membawanya lebih dekat dengan denyut masyarakat, mulai dari bimbingan, pendampingan, hingga mediasi persoalan sosial-keagamaan. Di titik ini, seluruh jalan hidupnya seperti bertemu, antara ilmu dayah, kecakapan organisasi, kepekaan dakwah, dan kesabaran sosial.
Ia juga pernah menjadi bagian dari MPU Kota Banda Aceh dan Majelis Fatwa Lembaga Wali Nanggroe. Namun semua amanah itu tidak mengubah caranya menyapa orang. Ia tetap Waled Rusli yang sama, mendengar lebih banyak, berbicara secukupnya, dan bekerja tanpa banyak penanda.
Disela-sela kesibukan yang saban hari mengantri, Waled menyempatkan diri secara serius di barisan Dewan Pembina DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD).
Simpul kata, bicara tentang sosok Waled Rusli adalah bicara tentang kesabaran merawat yang kecil hingga tumbuh besar. Tentang keyakinan bahwa kebaikan tidak selalu harus diumumkan. Ia berjalan pelan, tapi jauh. Dan dalam jejak yang tidak riuh itulah, pengabdian menemukan maknanya. Dan insya Allah dalam waktu tidak lama lagi, isnya Allah akan menyelesaikan program doktoral-nya di Kopelma Darusalam, Banda Aceh. [Tim Editorial Biografi Tokoh ISAD]