Ulama Turats dan Birokrat Figur Teladan Bagi Kaum Intelektual Dayah
Ia tidak datang dengan suara keras.
Tidak pula dengan gestur berlebih.
Abu Alizar Usman memilih diam yang bekerja.
Di balik diam itu, ada pikiran yang terus bergerak.
Ada kitab yang tidak pernah benar-benar tertutup.
Ada adab dayah yang tetap dijaga, meski jam kerja menuntut kecepatan dan laporan.
Ia tumbuh dari dunia turats.
Dari huruf-huruf gundul yang tidak mengenal tanda baca.
Fikih, ushul fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, hadis, dan cabang-cabang ilmu dayah lainnya ia pelajari dengan sabar.
Bukan untuk menguasai orang lain.
Melainkan untuk menata diri.
Pendiam, ya.
Tetapi ketika berbicara, kata-katanya tidak berputar.
Retorikanya tenang, jernih, dan sampai.
Ia tahu kapan harus menjelaskan.
Ia tahu kapan harus berhenti.
Ia murah ilmu.
Bukan karena merasa penuh, tetapi karena tidak ingin ilmu itu membusuk di kepala.
Ia membaginya lewat blog sederhana.
Lewat rubrik tanya jawab.
Lewat Kitab Kuning di Serambi Indonesia.
Lewat Rangkang Group, ruang kecil yang setia membahas kitab, tanpa hiruk-pikuk.
Lalu negara memanggil.
Ia tidak menolak.
Tahun 2006 hingga 2007, ia dipercaya menjadi Camat Sawang, Aceh Selatan.
Di sana, ia belajar hal yang tidak tertulis di kitab.
Tentang manusia.
Tentang konflik.
Tentang keputusan yang tidak selalu hitam dan putih.
Pengalaman itu mengajarkannya satu hal penting.
Bahwa ilmu tidak cukup berhenti di mimbar.
Ia harus turun ke meja pelayanan.
Ke lapangan.
Ke masyarakat.
Setelah itu, jalannya di birokrasi terus berlanjut.
Kepala Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah.
Staf Ahli Wali Kota.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika.
Kini, Kepala Sekretariat MPU Kota Banda Aceh.
Namun jabatan tidak pernah menjadi pusat hidupnya.
Kitab tetap ia jaga.
Ia teliti.
Ia telaten.
Di tengah rapat dan berkas, ia tetap merawat warisan ulama.
Latar dayah Darul Mu’arrif Lam Ateuk, pendidikan Syariah di IAIN Ar-Raniry, dan hukum di Universitas Sumatera Utara, membentuk satu garis yang utuh.
Alim yang rasional.
Birokrat yang beradab.
Bukunya, Pena Teungku Dayah, adalah sikap.
Tentang keberanian berbicara tanpa meninggalkan adab.
Tentang turats yang tidak beku.
Tentang ulama yang hadir di tengah persoalan zaman.
Sebagai pembina dan dewan pakar ISAD Aceh, juga Wakil Rais ‘Am PW Nahdlatul Ulama Aceh, ia berdiri sebagai jembatan. Bahkan dulu ketika kuliah mendirikan Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Alumni Dayah (IMADA).
Antara dayah dan kampus.
Antara kitab dan kantor.
Antara santri dan negara.
Bagi santri dan mahasiswa berlatar belakang dayah, sosok ini berbicara tanpa suara.
Bahwa alim boleh berada di pemerintahan.
Bahwa membaca kitab kuning tidak membuat seseorang canggung di ruang negara.
Justru di sanalah ilmu diuji kebermanfaatannya.
Ia tidak menawarkan sensasi.
Ia menawarkan keteladanan.
Dan di zaman yang ramai oleh pencitraan,
keteladanan semacam itu terasa semakin langka. [Tim Liputan Khusus ISAD]