Tgk. Musannif, Figur Sentral di Dewan Kehormatan ISAD
TGK. H. MUSANNIF SANUSI, S.E., S.H. nama lengkapnya. Sosok dermawan di balik keteguhan dayah dan umat.
Ia lahir pada 1 Agustus 1973 di Aceh Besar, tanah yang mengenal doa panjang dan kerja sunyi.
Darah ulama mengalir dalam dirinya, cucu dari Abu Hasan Krueng Kalee, sebuah silsilah yang bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dijaga.
Nama Tgk. H. Musannif Sanusi tumbuh bersama Dayah Darul Ihsan.
Bukan sekadar tumbuh, tetapi mengakar.
Sejak 1999, dayah itu ia rawat dengan kesabaran panjang, seperti menanam pohon yang buahnya baru bisa dinikmati puluhan tahun kemudian.
Ia memulai dengan anak-anak yatim dan dhuafa.
Empat puluh sembilan anak, bukan angka, melainkan amanah.
Mereka diasuh, dididik, dan dibesarkan hingga menjadi generasi yang mengenal kitab, adab, dan tanggung jawab.
Dalam perjalanan itu, ia tidak sendiri.
Dua abangnya, Tgk. H. Waisul Qarani Aly dan Tgk. H. Muhammad Faisal, menjadi saudara seperjuangan, bersama-sama menjaga agar dayah tidak hanya hidup, tetapi bermakna.
Kedermawanannya tidak selalu hadir dalam bentuk kata.
Ia lebih sering menjelma menjadi tindakan.
Beasiswa, makanan bergizi, usaha sosial, hingga unit-unit ekonomi yang bukan sekadar mencari untung, melainkan memastikan umat tetap berdiri dengan martabat.
Ia mudah bergaul.
Duduk dengan santri, alumni dayah dan mahasiswa tanpa jarak, berbicara dengan pejabat tanpa rendah diri.
Dalam urusan usaha dan bisnis, ia dikenal lihai dan tegas.
Keputusan diambil dengan hitungan, namun tetap berpihak pada kemaslahatan.
Dunia politik pernah ia masuki, bukan untuk gemerlap, tetapi sebagai jalan pengabdian.
Ketua DPRK Aceh Besar dan Anggota DPRA adalah posisi-posisi yang ia jalani dengan kesadaran bahwa kekuasaan hanyalah alat, bukan tujuan.
Ia juga seorang organisator.
Terbiasa menyusun, merawat, dan menggerakkan.
Dari dayah, yayasan, hingga ruang-ruang kebijakan, ia memahami bahwa umat tidak cukup hanya didoakan, tetapi harus diatur dan diperjuangkan.
Kini, Tgk. H. Musannif Sanusi mengemban amanah sebagai Dewan Kehormatan DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD).
Sebuah posisi yang tidak menuntut banyak bicara, tetapi menuntut keteladanan.
Ia hadir sebagai penyangga moral, penjaga arah, dan pengingat bahwa intelektual dayah harus tetap berpijak pada keikhlasan.
Di tengah dunia yang sering tergesa dan gaduh, ia memilih tetap tenang.
Dermawan tanpa sorotan.
Tegas tanpa amarah.
Bergaul luas tanpa kehilangan prinsip. Barangkali, itulah makna kehormatan yang sesungguhnya. Hadir, berguna, dan setia pada umat. [*]